Journey to motherhood 4

Pengobatan TORCH aku selesai bersamaan sama terapi PLI, dari konsul terakhir setelah tes lab ulang (huhuhuh sering banget ketemu jarum) Prof. Jacoeb bilang semuanya bagus n aku boleh coba inseminasi. Pagi2 sekitar jam ½ 8 kita ud disuruh dateng untuk ambil sampel sperm, abis itu kita duduk2 sambil nunggu sperm preparationnya selesai. Sekitar jam 11, aku disuruh masuk ke ruang tindakan, ga lama masuklah di prof dengan senyum kebapakannya J Prosesnya ga lama, paling cuma 10 menit doang ud selese, yang lama itu baringannya. Jadi abis proses insemnya kita disuruh baringan dulu dengan posisi pinggang ke bawah dinaikin sedikit selama ½ jam. Abis itu tebus obat2an terus pulang deh. Aku coba insem 2x dengan Prof.Jacoeb, dua2nya gagal. Akhirnya kita putusin untuk rehat dulu, pengen ngebalikin kondisi badan yang ud habis2an dihajar obat n hormon, balikin kondisi mental yang drop karena 2x gagal n sekaligus ngebalikin kondisi keuangan yang babak belur hehehehe

Sekitar 4 bulan sejak mulai rehat, ternyata aku gatel untuk nyoba program lagi. Ini nih salah satu sifat jelek aku, “keras kepala” = when I want something, I’ll try to reach it and I’ll try hard😛 Aku mulai browsing lagi untuk cari spog yang paling pas n mulai tanya sama temen2 yang punya problem sama. Untungnya aku punya suami yang ngertiin n supportive banget jadi pindah dokter ini ga masalah buat dia (luv u bebib :-*). Finally kita putuskan ke dr.Ivan Sini, ini juga dapet rekomendasi dari jeng Bellinda (thx banget loh buu XOXO). Date for consultation was set n there we were sitting nicely at BIC, waiting for our turn for consultation J pas lagi nunggu, tiba2 keluarlah dr.ivan dari ruangan konsultasinya ke ruangan lain, kira-kira 5 menitan dia balik lagi ke ruangannya. Tiba-tiba si bebib cubit2 tangan aku trus ngomong “kamu sengaja ya pindah dokter gara2 milih pengen dokter yang ganteng??” dueeeeng, oemji bib, sempet2nya nanya begitu ckckckck klo ternyata ganteng ya anggep aja bonus kikikikikik

Pertama kali konsul sama dr.ivan kita cerita dulu apa aja program n tes2 yg ud dijalanin, terus berkas2 tes juga aku kasihin ke beliau. Trs aku di usg intravaginal, dari USG dia suspect aku ada endometriosis. Dari situ dr.Ivan nyaranin untuk laparoskopi n aku ga perlu ngulang segala macem tes2 yang melelahkan itu *fiuuuuh. Kesan pertama aku sm bebib soal dokter ini? We absolutely love him😉 ramah, komunikatif banget n jelasinnya santai ga bikin parno. Setelah memberanikan diri buat operasi, aku sm bebib balik lagi untuk konsul soal laparoskopi. Setelah dijelasin prosesnya, akhirnya diputusin tanggal operasi. Malam sebelum operasi aku ud masuk RS untuk preparation, di tes darah, kosongin perut, n skin test yang sakitnyaaaa perih gila klo menurut aku n u know what??? They tested me 4 times gara2 aku alergi terus sama sampel antibiotiknya hiks..hiks Masuk ruang operasi jam 9 pagi n baru keluar kata bebib jam ½ 12 siang lumayan lama ya.. 2 hari kemudian baru d pulang RS, padahal klo orang2 lain pasca laparoskopi besoknya juga ud pada pulang, dasar akunya aja manja klo kata bebib heeheehe😛 Kesimpulan dari laparoskopinya, ternyata bener aku ada endometriosis di indung telur kiri n perlengketan karena endometriosis di bagian rahim yang menghadap ke rectum, setelah laparoskopi semuanya dibersihin n aku disuruh coba hamil alami dulu tanpa obat2an🙂

–continued to journey to motherhood 5–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s