Journey to motherhood 3

Berenti dari pak Sobri, kita mutusin untuk balik lagi ke dokter kandungan. Tapi kali ini kita fokus untuk cari dokter yang spesialisasinya untuk infertilitas. Gemes banget karena ga ditemukan masalah apa2 tapi ga hamil2 siiih?! Jadi kita putusin ke Prof. TZ. Jacoeb di klinik Sammarie. Antriannya parah juga ternyata, tapi pelayanannya baik banget, suster2nya ramah, helpful n komunikatif. Pertama kali ke sammarie, aku di usg trs cek vagina, tapi bukan Prof yang USG sm cek, ada dokter asistennya gitu. Dokter asistennya bilang dari hasil cek vagina, kayana aku ada endometriosis d (oowww!) Dari pemeriksaan itu baru d masuk ke ruangan konsultasinya si Prof.  Setelah penjelasan panjang + gambar2 dari si prof mengenai pembuahan, ternyata kita harus ulang tes2 yang ud pernah dijalanin, analisa sperma, hormon, TORCH, n ada tes tambahan which is ASA (antibody Anti Sperm), sama mikrokuretase yang fungsinya untuk tau apakah endometrium kita baik n ada polip ato TBC rahim. Untungnya HSG ga usah diulang fiuuuuh… Kayanya tes ASA ini d yang dulu disuruh sama dr. Budi, cm beda metode kayana, klo yang ini cuma perlu diambil darahnya aja. Tapi kenapa yang endometriosisnya ga dibahas ya?

Semua tes harus dilakukan di sammarie, ini kebijakan darisana mungkin mereka ga percaya hasil lab lain kali yaa. Nurut deeh, kita jalanin lagi semua tes2 itu n hasilnya…completely surprising! Aku terinfeksi Rubella, CMV n HSV, padahal dari tes sebelumnya waktu sm dr.Budi aku baik2 aja, n hasil ASA ku + hasil tes yang lain untuk hormon, mikrokuretase n sperma bagus semua. Setelah hasil tes dibaca prof. Jacoeb, aku dikasih resep obat yang setumpuk n aku harus terapi PLI (Paternal Leukocyte Immunization). Terapi PLI dilakukan 3 minggu sekali, darah putih bebib diambil n disuntikkin ke aku supaya badan aku ga alergi sama sperma dia. Si bebib yang dulunya takut suntik, sampe kebal jadinya (I’m so proud of you honey :-*) Obat2an untuk TORCH ternyata ga enak banget, aku jadi pusing n mual. Akhirnya stop minum obat karena ga tahan n untuk gantinya aku pake pengobatan alternatif TORCH H.Juanda (dapet referensi dari jeng Nina Agustin ^^) untungnya pusat pengobatan H.Juanda ada di bogor, jadinya deket deh sama rumah. Pertama kali kesana liat yang mo berobat ternyata rame, trs untuk yang berobat pertama kali, ada sesi presentasinya, dijelasin soal pengalaman pribadinya H.Juanda trs ada sesi tanya jawabnya juga. Pulang dari situ bawa deh 2 botol ramuannya H.Juanda yang mesti diminum pake madu n minumnya harus pagi2 pas perut masih kosong, terus sebaiknya minumnya suami istri supaya virusnya ga bolak-balik katanya :D  Aku minum ramuan ini cuma 2,5 bulanan sampe aku tes TORCH ulang di lab sammarie n hasilnyaaaaa jadi negatif semua hahahahaha senangnyaaa terima kasih pak H.Juanda *battling eyelashes

–continued to journey to motherhood 4–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s